Semarak Kirab Budaya HUT Kartasura Ke-342 Peristiwa Luar Biasa Semangat Lestarikan Budaya Leluhur

Iklan Semua Halaman

Semarak Kirab Budaya HUT Kartasura Ke-342 Peristiwa Luar Biasa Semangat Lestarikan Budaya Leluhur

Staff Redaksi
Senin, 12 September 2022




JURNALIS NUSANTARA-1.COM | KARTASURA--Ribuan warga Kartasura tampak memadati jalan di sepanjang rute Kirab Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Kartasura yang ke 342, Minggu (11/09/2022) siang.


Kirab Budaya adalah salah satu agenda peringatan HUT Kartasura Ke 342 selain bazaar UMKM di sepanjang jalan bekas Keraton Kartasura dan Pagelaran Wayang Kulit di bekas Keraton Kartasura.

Dikutip dari Wikipedia, usai menumpas pemberontakan Trunojoyo, Sunan Amangkurat II menarik pasukannya menuju Kabupaten Semarang, kemudian dia memberi perintah kepada Pangeran Nrangkusumo agar membuka hutan Wanakerta dan dibangun menjadi kawasan permukiman. Dalam kurun waktu dua tahun hutan Wanakerta sudah berubah menjadi sebuah kota yang besar.


Pada hari Rebo Pon, tanggal 27 Ruwah, tahun Alip 1603 (J), bertepatan dengan tanggal 11 September 1680 M, Sunan Amangkurat II secara resmi menempati ibu kota kerajaan yang baru. Sejak saat itu nama Wanakerta diganti dengan nama Kartasura Adiningrat.

Foto; Penampilan peserta pawai Kirab Budaya HUT Kartasura ke 342/rsc

Kartasura memiliki 12 Desa/ Kelurahan terletak dalam posisi strategis diantara 3 Kota yakni Solo, Yogyakarta dan Semarang.


Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau yang lazim disebut Covid-19 membuat aktifitas budaya tersebut berhenti selama dua tahun. Menurunnya jumlah penderita penyakit yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, RRC tersebut membuat pemerintah memberikan kelonggaran dalam banyak hal termasuk penyelenggaraan pawai budaya.



Dahaga masyarakat Kartasura akan hiburan bernuangsa budaya seakan terpuaskan saat itu, kirab yang dimulai dari perempatan Gembongan dan berakhir di Petilasan Keraton Kartasura tersebut diikuti oleh jajaran Forkompinca, Pemerintah Desa/Kelurahan, Organisasi Keagamaan, Organisasi Kepemudaan, Komunitas, Perguruan Bela Diri dan sejumlah unsur masyarakat.

Foto; Di atas panggung kehormatan hadir Wakil Bupati Sukoharjo Agus Santosa, Jajaran Forkompinca Kartasura, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari beserta KPH Eddy Wirabumi, Penggagas Kartasura Greget Djuyamto, SH, MH, dan tamu undangan lainnya/rsc


Camat Kartasura Joko Miranto, menilai pelaksanaan Kirab Budaya tersebut sudah bagus, namun dia berharap tahun depan bisa ditingkatkan dari aspek manajemen.

“Secara umum atau overall sudah bagus namun ke depan kita akan atur terkait arus lalu lintas,” ujarnya.

Sebagai orang Jawa, Camat menilai Keraton Kartasura penuh dengan filosofi yang sesuai dengan perilaku orang Jawa.


“Banyak peninggalan nilai budaya Jawa yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ulasnya.

Foto; Penggagas Kartasura Greget Djuyamto, SH, MH, saat wawancara dengan media/rsc


Wakil Bupati Sukoharjo, Agus Santosa mengapresiasi kinerja panitia bagaimana mereka bekerja setelah negara mengalami Pandemi Covid-19.


“Untuk kedepannya saya mengajak kepada semua komponen masyarakat, semua elemen masyarakat, mari kita rencanakan, kita pikirkan bersama untuk perbaikan dan Insya Allah kalau nanti tahun depan kita rencanakan dengan matang Insya Allah lebih besar lagi, untuk apa untuk nguri-uri budaya Jawa dan melibatkan UMKM yang tetap tangguh ditempa pandemi Covid 19,” terangnya.


Sementara Penggagas Kartasura Greget Djuyamto, SH, MH, menjelaskan

Kirab Budaya merupakan peristiwa yang luar biasa baik dari sisi budaya maupun sisi semangat untuk nguri-uri apa yang menjadi peninggalan para pendahulu.

Foto; Mas Djoe bersama KPH Eddy Wirabumi/rsc


“Dimana dahulu semangat untuk mendirikan Tlatah Kartosuro itu adalah semangat gotong-royong, semangat untuk saling mendukung supaya menghadirkan kemakmuran bersama dan kerukunan bersama,” jelasnya.


Dalam peringatan HUT Kartasura, pria yang akrab disapa Mas Djoe tersebut meminta agar semangat itu harus terus dirawat.


“Sebagai generasi penerus, ahli waris Tlatah Kartosuro harus mempunyai rasa memiliki, handarbeni supaya kerukunan, kebersamaan keguyuban tidak hadir begitu saja namun harus diupayakan terus-menerus terutama dengan event-event seperti ini walaupun terdapat kekurangan namun kekurangan itu saya kira bisa tertutupi oleh bagaimana antusiasme masyarakat yang luar biasa,” bebernya.


Mas Djoe berharap tahun depan pelaksanaan Kirab Budaya tersebut harus diperbaiki baik dari segi manajemen penyelenggaraan, koordinasi, kreativitas serta inovasi.


“Tahun depan harus bisa lebih baik lagi dari yang sekarang,” tutupnya.

(rsc/gun)

close
Info Pasang Iklan