Ukir Keris Jawa Adalah Cermin Adab

Iklan Semua Halaman

Ukir Keris Jawa Adalah Cermin Adab

Staff Redaksi
Senin, 20 Juni 2022

 


JURNALIS NUSANTARA-1.COM | SUKOHARJO--Waspadalah jika hidup pada zaman dimana memburu kesenangan lebih digemari dibanding menciptakan rasa tentram. Sebab kesenangan yang melampaui batas dapat membuat seseorang kehilangan nuraninya. Jika manusia sudah tidak memiliki nurani, maka yang terjadi kegelapan diri.


Bermula dari kegelapan diri kemudian melahirkan berbagai prahara, diantaranya tidak lagi memikirkan soal benar atau salah, tentang pantas atau tidaknya pun bukan lagi sebagai suatu ukuran, pedomannya yang penting untuk dan demi mencapai kepuasan. Atas nama kepuasan itu lah sumber keserakahan yang sesungguhnya!


Maka "Keris Jawa" pada bagian "Ukir" yakni hulunya, rata-rata oleh Leluhur dipahat menunduk. Bukan berarti tidak memiliki makna, justru ada nilai filosofisnya. Secara karakteristik memberikan gambaran bahwa sedigdaya apapun kecerdasanmu, setajam apapun kecerdikanmu, semahir apapun ketangkasanmu, sehebat apapun dirimu, hendaknya rendah hati lah, sebagaimana ukir Keris yang menunduk! Itulah adab.


Manusia jika mencapai tataran rendah hati, dia tidak akan mengumbar hasrat kesenangan. Dia punya adab, baik adab pada dirinya sendiri, adab pada sesama, adab pada semesta dan adab kepada Gusti Kang Akarya Jagat.


Sekali lagi perlu dipahami bahwa rendah hati adalah bagian dari adab, sedang adabnya para rendah hati senantiasa tidak gagal mengendalikan hasrat memburu kesenangan. Tidak asal senang namun cenderung menciptakan ketentraman, begitu intinya! Tidak keluar dari nilai-nilai kebenaran dan kepantasan.


Maka jika suatu zaman dimana memburu kesenangan lebih digemari dibanding menciptakan rasa tentram, pada waktu itu bumi akan hilang berkahnya, karena semesta tak kuasa melihat adab penghuninya. Murka!


Hilangnya berkah ditandai dengan sulitnya mencari rezeki, banyak anak berani kepada orang tua, tidak sedikit orang tua gagal memberi suri tauladan terhadap anaknya, ilmu gampang didapat namun pemahaman sulit diserap, fitnah serta perseteruan kian merajalela, banyak orang tenar tapi sedikit saja yang berjiwa besar, perebutan kekuasaan menjadi-jadi sampai tidak ada yang perduli pada nasib generasi. Sungguh malapetaka!


Wong Jawa aja ilang Jawane. Memayu hayuning bawana, waras!!!

Penulis: Sri Narendra Kalaseba


close
Info Pasang Iklan