Perjuangan Menjaga dan Melestarikan Agama, Adat dan Budaya Bali Dari Rongrongan Sampradaya

Iklan Semua Halaman

Perjuangan Menjaga dan Melestarikan Agama, Adat dan Budaya Bali Dari Rongrongan Sampradaya

Staff Redaksi
Minggu, 19 Juni 2022




JURNALIS NUSANTARA-1.COM | KARANGASEM--Sampai saat ini, perjuangan untuk ngajegang ajaran leluhur Nusantara, yg tersimpan rapi di bumi Bali, terus bergerak. Rintangan serta tantangan yang begitu berat, bukan dari sampradaya, tapi dari orang bali yang menjadi pendukung sampradaya.



Semua itu tidak menyurutkan perjuangan ini. Walaupun ini suatu rintangan dan tantangan yang sangat berat. Bila kita tidak melayani, mereka meraja lela. Tapi bila dilayani, kita dikatakan intoleran, tidak memahami moderasi beragama, tidak sesuai tat twam asi, karena tega ribut sesama orang bali.





Mari umat memahami, bahwa bahaya laten sampradaya, telah merubah keyakinan umat, tanpa disadari oleh umat itu sendiri. Bila ini dibiarkan, dalam 30 tahun, akan terjadi keyakinan yang permanen, yaitu yakin dengan ajaran sampradaya dan yakin dengan Hindu Dresta Bali. Dimana keyakinan sampradaya merupakan alternatif.



10 tahun setelah itu, maka pilihan terhadap alternatif menjadi sangat populer dilakukan umat.Dan 10 tahun setelah itu, umat Hindu Bali melupakan keyakinannya, dengan tanpa ada rasa bersalah, tidak pula merasa berdosa terhadap leluhur yang melahirkan ajaran ini.



Itulah makna serta patern 50 tahun grand design penyebaran Hare Krsna. Dimana 50 tahun sudah hampir semua umat Hindu terpapar Hare Krsna.Awal pelaksanaan grand design ini adalah tsekitar tahun 2012,tapi kini mulai tahun 2020 umat Krama Adat Bali bangkit. 


Menyadari betapa dasyat perubahan yang terjadi.Tidak di grass root, tapi rupanya Hare Krsna, Sai Baba dan sampradaya lainnya memilih tokoh Hindu, Akademisi, Politikus yang digarap, dimasuki pemahaman dengan berbagai cara yg mendatangkan kenyamanan.


Sehingga perjuangan ini sangat berat, dan kemungkinan akan sangat panjang, karena sudah 2 tahun krama adat bali bangkit, tapi perjuangan malah dibiaskan kesana kemari oleh para pendukung sampradaya, untuk membuat kesan kepada umat, bahwa perjuangan ini tidak murni lagi.


Tapi apakah kita harus berhenti karena ulah krama bali yg menjadi pendukung sampradaya? Tentu tidak!!!


Hari ini dibuktikan dangan peresmian kantor PHDI Pemurnian Kabupaten Karangasem di Puri Agung Karangasem.


Dengan dukungan Angga Puri Agung bersama puri puri sejebag Karangasem, PHDI Pemurnian Kabupaten Karangasem siap melakukan pelayanan umat sesuai dangan tugas kewajiban Majelis Tertinggi Agama Hindu Bali.


Tentu dalam ngajegang Hindu Dresta Bali, diharapkan Bupati Kabupaten Karangasem dan jajaran Forkompinda, untuk memberi dukungan, dan tidak ikut terlarut dalam pusaran pendukung sampradaya yg telah larut disegala lini kehidupan ini. (LAG/RED) 

Sumber: IDG Surya Ngurah Y. Anom




close
Info Pasang Iklan