Makna & Filosofi Slumpring

Iklan Semua Halaman

Makna & Filosofi Slumpring

Staff Redaksi
Jumat, 27 Mei 2022


JURNALIS NUSANTARA-1.COM | JAKARTA--

Slumring yang kita kenal selama ini sebagai tunas bambu sebenarnya bukanlah bambu melainkan kumpulan slumpring yang masih muda. yang biasanya di olah menjadi sayur.

Bambu tercipta dari antara sela sela slumpring yang memanjang dan mengeras. Slumpring yang melindungi inti bambu dari terik panas matahari dan hujan. 

Bahkan slumpring melindungi inti bambu dari manusia yaitu dengan mengeluarkan buluh buluh yang bisa membuat gatal ketika terkena kulit manusia.


Slumpring melindungi inti bambu sampai bambu menjadi dewasa dan ketika dirasa bambu sudah cukup kuat dan keras maka slumpring dengan ikhlasnya melepaskan diri dari bambu dengan membawa serta seluruh buluh yang ada ditubuhnya. sehingga bambu tidak ada buluh sedikitpun dan manusia tidak takut untuk mendekati bambu tersebut.


Ketika semua orang berbicara tentang betapa kuatnya bambu dan betapa banyak manfaat yang bisa di ambil dari bambu.Sementara itu slumpring hanyalah dipandang sebagai sampah yang hanya di injak injak  bahkan slumpring di anggap mengotori rumpun rumpun bambu,mereka lupakan semua jasa dan pengorbanan slumpring kepada bambu.


Makna filosofi slumpring adalah kebudayaan nenek moyang nusantara adalah kebudayaan yang di akui oleh dunia sebagai kebudayaan tertinggi di dunia dari jaman dulu. 


Semua itu bukanlah sebuah kebetulan,tapi perjuangan nenek moyang nusantara dalam mengamati dan mempelajari serta mempertahankan budaya serta norma kemanusiaan.


Semua itu butuh proses yang panjang disertai dengan perjuangan yang mempertaruhkan waktu harta bahkan nyawa mereka.


Apa yg mereka harapkan..? 

Tiada lain adalah. agar anak cucu mereka kelak bisa menjadi panutan dalam hal budaya dan norma kemanusian dari seluruh penjuru dunia.


Namun,apa yang terjadi sekarang...? 

kebudayaan tertinggi yang  di akui oleh dunia hanyalah dianggap kuno dan kolot dan ironisnya adalah justru orang nusantara sendiri yang menganggap demikian.


Mereka berusaha memasukan budaya serta norma dari luar yang sebenarnya derajatnya lebih rendah bahkan lebih buruk dari budayanya sendiri.

Mereka malu kalau memakai blangkon tapi tidak malu ketika memakai tutup kepala lainnya.r


Mereka malu memakai pakaian adat tapi mereka tidak malu ketika memakai pakaian lainnya.Miris dan ironis sekali jaman sekarang ini. Marilah kita jaga dan lestarikan budaya nenek moyang kitab angga dengan budaya kita sendiri.


Inilah filosofi dari Slumpring dan ingat, 

"Slumpring akan jadi emas ketika kita bisa menggunakan dan memanfaatkannya dengan benar. "


Ketika kita melestarikan budaya kita sendiri makan bangsa kita akan menjadi bangsa yang besar tanp.a harus menundukkan atau menjajah bangsa lain. 

 Penulis: Slumpring Tawangmangu



close
Info Pasang Iklan