Ndoro SNK:Kidung Itu Adat Sekaligus Sakral, Sesatnya Dimana?!

Iklan Semua Halaman

Ndoro SNK:Kidung Itu Adat Sekaligus Sakral, Sesatnya Dimana?!

Staff Redaksi
Senin, 18 April 2022




Jurnalis Nusantara Satu | Kartasura-Sejak tahun 2015 sampai sekarang, sudah seringkali saya sampaikan soal kesakralan Kidung, baik secara tertutup ataupun terbuka. Terhadap para Akademisi dan Penegak Adat, tidak sedikit pula para Doktor dan Mahasiswa menerima penjelasan dari saya secara detail.


Bahwasanya eksistensi Kidung di Nusantara, disepakati menjadi salah satu Tarekat (jalan rohani) Bangsa Jawa yang sudah ada sejak zaman Kalingga yakni pada masa kehidupan Ratu Shima.


Kemudian berkembang hingga ke masa Medang Kamulan, Kahuripan, Singhasari, Pajajaran, Majapahit, Pakungwati, Demak Bintara, Giri Kedhaton, Pajang, Mataram Islam, Kesultanan Cirebon baik Kasepuhan ataupun Kanoman dst.


Sampailah pada paska mangkatnya Pangeran Dipanegara, kemudian Adat Kidung dikalangan Bangsa Jawa itu secara umum berangsur-angsur menuju kepunahan. Tragis! Pada wilayah kesejarahan ini, saya memiliki bukti primernya. Setidaknya beberapa manuskrip kuno warisan Leluhur saya, cukup sebagai alasan fundamental.


Sampailah pada tahun 2003/2004 saya tergugah untuk kembali merilis Sastra Kidung hingga berjilid-jilid. Dan ditahun 2014, saya rilis salah satu karya Kidung saya secara terbuka, kemudian dikenal sebagai tembang sakral abad digital, Kidung Wahyu Kalaseba. Yang booming hingga sekarang! Tentu ini semua tidak Lepas dari dan berkat jasa besar Mas Andi Zate serta Ki Dalang Danang Suseno. 


Begini! Bahwa tidak semua Sastra Kidung itu ditembangkan. Karena Kidung itu tidak 100% beresensi nyanyian. Kidung adalah Adat Bangsa Jawa yang didalamnya memiliki misi medar jagat, penghayatan jati diri, representasi dari ilmu Sangkan Paraning Dumadi dan Panembahan. Maksudnya Kidung tidak harus dibawakan dengan intonasi khusus.


Sungguh Kidung itu Tarekat Bangsa Jawa yang berdiri di atas bait-bait Suluk. Kidung merupakan rangkaian Sastra Jawa berfilosofi tinggi dan sarat rohani. Ini fenomena, hanya sedikit saja Anak Jawa yang paham.


Para Penghulu Rohani Jawa berkata! Kesakralan dari Kidung tidak diperkenankan dibawakan sembarangan. Butuh konsentrasi, penataan Adab dan mengejawantah. Ini berlaku bagi orang-orang yang bertaraf khusus!


Diriwayatkan bahwa Ratu Shima bila mendengar Kidung, langsung khusyuk diam, memejamkan mata dan menunduk! Pun para Raja-raja di Jawa, tidak pernah sembrana pada hal-hal yang berkaitan dengan Kidung. Dikalangan Bangsawan Keraton sampai sekarang, tradisi seperti ini masih berlangsung. Yakni khidmat saat ber-Kidung.


Lihat saja! Karya sastra Kidung milik Kanjeng Sunan Lemah Abang yang berbunyi Manunggaling Kawula Gusti yang tetap abadi hingga sekarang. Menunjukkan bahwasanya Kidung itu bukan sembarang karya. Ada proses panjang sehingga susunan kata dikatakan sebagai Kidung. Butuh lelaku, tirakat, wening dan Guru panuntun.


Tak heran! Jika tidak sedikit para Penegak Adat, Sejarawan dan Tokoh Agama sampai detik ini masih tertarik membahas Kidung Manunggaling Kawula Gusti. Artinya menunjukkan bahwa Tarekat Bangsa Jawa dalam dunia Kidung benar-benar berkelas Langitan! Eksisnya sastra Kidung Manunggaling Kawula Gusti itu bukti primer tak terbantahkan! Pamuji saya: "Suwargi langgeng kagem Kanjeng Sunan Lemah Abang."


Maaf-maaf saja! Saya tidak tertarik membahas pembelokan sejarah Kidung Wahyu Kalaseba yang dinisbatkan kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Karena sejarahnya sudah saya anggap final! Tinggal nalar sehat kita saja yang mensikapinya. Pun jangan gegabah jika bukan ahlinya!


Saya ulang! Dari abad ke abad tentang kedahsyatan Tarekat Bangsa Jawa yang dikemas dalam Sastra Kidung dimana terbukti bisa diterima eksistensinya oleh semua umat manusia, Agama dan keyakinan, pun dapat menghipnotis jiwa seseorang sekalipun tidak Berbangsa Jawa ataupun tidak mengerti arti baitnya, dulu kala hingga sekarang. Merupakan steatment recehan bila tiba-tiba ada yang meneriaki sesat!


Sesatnya dimana?! Akan lebih bijak jika dipelajari dulu sejarahnya, dikenali frasa sastranya, mengerti arti kata bakunya, paham makna tata kalimatnya, minimal dikaji bersama pakarnya. Jika tidak demikian, tiba-tiba menghakimi dunia per-Kidungan sebagai kesesatan adalah fitnah dan sama sekali tidak berbobot. Nalar sehatnya dimana?! Sudahlah.


Kita Anak Jawa tidak perlu terkecoh oleh provokasi yang sama sekali tak bernalar. Lahir di Jawa, Hidup di Jawa, makan di Jawa, di dalam tubuh mengalir darah Jawa dan mati pun dikubur di tanah Jawa. Jangan malu menjadi Anak Jawa, tunjukkan Jawamu! Diantaranya dengan secara seksama menegakkan Adat, melestarikan Budaya dan merawat kearifan lokal.


Intinya adalah yen kowe Jawa aja ilang Jawamu. Yen ora paham, sinau. Nek pengen ngerti, takon.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••


LIRIK KIDUNG WAHYU KÅLÅSÉBÅ

(Tembang Sakral Abad Digital)


Rumêkså Ingsun

Laku Nisthå Ngåyå Wårå

Kêlawan Mêkak Håwå

Håwå Kang Dur Angkårå


Sênadyan Sétan Gêntayangan

Tansah Gawé Rubédå

Hinggå Pupusing Jaman


Hamêtêg Ingsun

Nyirêp Gêni Wiså Murkå

Mêpêr Hardhåning Påncå

Sabên Ulêsing Nétrå"


Linambaran Sih Kawêlasan

Ingkang Paring Kamulyan

Sang Hyang Jati Pengéran


Jiwanggå Kalbu

Samudrå Pêpuntoning Laku

Tumuju Dhatêng Gusti

Dzat Kang Amurbå Dumadi


Manunggaling Kawulå Gusti

Krêntêg Ati Bakal Dumadi

Mukti Ingsun Tanpå Piranti


Sumêbyar Ing Suksmå

Madu Sarining Pêrwitå

Manéka Warnå Prådå

Mbangun Pråjå Sampurnå


Sêngkålå Tidhå Mukså

Kålåbêndu Nyåtå Sirnå

tyasing Råså mardikå


Mugiyå Dèn Sêdyå

Pusåkå Kalimåsådå

Yêkti Dadi Mustikå

Sajroning Jiwå Rågå"


Bêjå Mulyå Waskithå, 

Digdåyå Båwå Leksånå

Byar Manjing Sigrå-sigrå


Ampuh Sêpuh Wutuh

Tan Kênå Iså Panêluh

Gagah Bungah Sumringah

Ndadar Ing Wayah-wayah


Satriyå Tåtå Sêmbådå

Wiråtåmå Katon Sèwu Kartikå

Kataman Wahyu Kålåsebå


Memuji Ingsun

Kanthi Suwitå Linuhung

Sêgårå Gåndå Arum

Suh Rêp Dupå Kumêlun


Ginulah Niat Ingsun

Hangidung Sabdå Kang Luhur

Titahing Sang Hyang Agung


Rêmbêsing Trêsnå

Tåndhå Luhing Nétrå Råså

Råså Rasaning Ati

Kadyå Tirtå Kang Suci


Kawistårå Jåpå Måntrå

Kondhang Dadi Pêpadhang

Palilahing Sang Hyang Wenang


Nåwå Déwå Jawåtå

Tali Santikå Bawånå

Prasidå Sidhikårå

Ing Sasånå Asmårålåyå


Sri Naréndrå Kålåsébå

Winisudhå Ing Gêgånå

Datan Gingsir Sèwu Warså


Sri NaréndråKålåsébå

Winisudhå Ing Gêgånå

Datan Gingsir Sèw


#KidungWahyuKalaseba

Penulis : Sri Narendra Kalaseba

close
Info Pasang Iklan