Nasib Keraton Kartasura

Iklan Semua Halaman

Nasib Keraton Kartasura

Staff Redaksi
Jumat, 22 April 2022



JURNALIS NUSANTARA-1.COM I KARTASURA-Pagi tadi saya diajak kawan, menonton keserakahan anak manusia atas peninggalan leluhurnya. Dengan dalih sudah memiliki sertifikat hak milik tanah yg di atasnya berdiri bangunan Tembok Baluwarti Keraton Kartasura, seorang anak manusia mengerahkan kemampuan bertindak bodoh, dengan menggempur, melumat bangunan bersejarah ini.


Ini buntut dari persoalan panjang tentang pengelolaan situs Keraton Kartasura. Pihak terkait sepertinya abai, dalam tugasnya menjaga, terlebih melestarikan situs ini, situs yg menjadi garis sejarah dua keraton besar, dan dua Kadipaten besar, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman.


Tiap kali menonton kemeriahan acara Kasunanan, atau Mangkunegaran, dan melawat ke Yogyakarta, melihat bangunan Keraton yg tertata rapi dan terawat, selain memikirkan berapa biaya penyelenggaraan dan pemeliharaannya, juga saya kepikiran nasib situs Keraton Kartasura yg terbengkalai tidak terurus. Bukankah itu muasalnya, selain Plered dan Kota Gede ?


Beberapa tahun ini, warga Kartasura, perorangan maupun yg tergabung dalam komunitas, dengan semangat untuk menjaga sisa peninggalan Keraton Kartasura, mencoba untuk membangun lingkungan yg kondusif untuk pelestarian. Berkala mereka mengadakan aksi bersih-bersih keraton, menyelenggarakan acara di dalamnya, guna menumbuhkan, atau merangsang kepekaan terhadap pelestarian situs penting peninggalan Mataram ini. 


Pagi tadi pihak dari kepolisian, Kecamatan, Kelurahan, dan dinas pendidikan dan kebudayaan datang, menengok tembok keraton yg rubuh itu. Ada yg berpendapat selama belum terdaftar sebagai cagar budaya, maka boleh sembarangan menggarap situs tersebut. Ini pendapat yang menyedihkan, akan lebih menyedihkan lagi jika diamini oleh pihak yang mestinya bertanggungjawab. 


Beruntung tadi wakil dari dinas pendidikan dan kebudayaan, menyampaikan bahwa situs ini sedang diajukan sebagai cagar budaya. Ya, ketimbang tidak, saya pikir. Ketimbang tidak sama sekali didaftarkan, ya lebih baik sudah didaftarkan, meski itu juga menjadi indikator bobroknya cara pengelolaan cagar budaya di negeri ini. Masak situs abad ke-18, berdiri tegak dan kokoh, dapat dikenali dengan mudah, lah kok baru didaftarkan. Selama ini ke mana?


Ini juga mestinya menjadi momentum, pentingnya kita mulai mengurus perkara-perkara substantif, memikirkan isi, ketimbang seremoni yg sifatnya di permukaan, kulit, tidak menjadi kebutuhan mendasar dari usaha pelestarian cagar budaya. 


Seremoni kulit seperti pawai, karnaval, sosialisasi di kantor instansi, dan yg serupa itu mesti diimbangi dengan pendidikan dan pelatihan yg tepat sasaran. Jika itu semua sudah dilakukan? Ya, berarti tidak tepat sasaran atau mentah, tidak terukur matang. Buktinya masih ada kejadian serupa itu, kemarin. 


Kotornya tembok Keraton, lalu banyaknya tumbuhan yg tumbuh di atasnya, menunjukkan ketidak seriusan dinas terkait dalam pengelolaan. Beberapa warga mendapat peringatan pada saat hendak bermaksud membersihkan, sebab katanya ada tata aturan khusus yg mesti dipatuhi, dan yg tahu hanya dinas terkait tersebut. 


Menunggu penanganan yg sempurna dan baik tidak kunjung datang, ada kendala personil yg ditugaskan, yaitu kurang banyak. Setahu kami hanya ada dua, itu pun sepertinya pekerja honorer, yg dihonor ringan untuk membersihkan bentangan panjang tembok keraton tersebut. Mana mampu? 


Sialan !!! 

Penulis : Bagus Sigit Setiawan

close
Info Pasang Iklan